Multaqa Ulama Al-Qur’an Nusantara, akankah menguatkan penerapan Al-Qur’an secara nyata?

- in BERITA, HUMANIORA, OPINI
365
0

Multaqa Ulama Al-Qur’an Nusantara, akankah menguatkan penerapan Al-Qur’an secara nyata?

Oleh Mariani IRT, Pegiat Sosial Media

Baru baru ini kemenag mengadakan Multaqa Ulama Al-Qur’an Nusantara yang diselenggarakan pada tanggal 15 November sampai 17 November di Pesantren Al-Munawir Krapyak Yogyakarta.

Pertemuan tersebut dihadiri 340 peserta yang terdiri dari kumpulan para ulama, praktisi, akademisi dan peniliti Al-Qur’an dalam dan luar negeri. Hasil dari pertemuan Multaqa Ulama Al-Qur’an Nusantara itu menyepakati ada 6 butir rekomendasi pembelajaran Al-Qur’an berbasis perguruan tinggi dan pesantren.

Direktur jenderal pendidikan Islam Muhammad Ali Ramadhani mengatakan salah satu butir rekomendasi pembelajaran tersebut adalah pengarusutamaan washatiyah atau jalan tengah sebagai metode berpikir dan beraktivitas di tengah keberagaman budaya dan keberagaman agama yang ada di Indonesia. Sehingga terwujud keberagaman yang moderat, toleran, ramah ditengah-tengah kebhinekaan.

Selain pengarusutamaan washatiyah, Multaqa Ulama Al-Qur’an juga mendorong pemerintah untuk lebih memperhatikan pendidikan Al-Qur’an mulai dari penjenjangan hingga desain kurikulum.

Poin rekomendasi lainnya berkenaan dengan revitalisasi sanad Al-Qur’an dan penanaman nilai-nilai Al-Qur’an secara komprehensif.

Umat pun berharap hasil dari Multaqa Ulama Al-Qur’an itu mampu memberikan pengaruh positif terhadap kehidupan umat melalui penerapan Al-Qur’an secara kaffah sebagai sumber hukum yang ditetapkan yang akan mewujudkan Rahmat bagi seluruh alam semesta.

Namun harapan ini sangat tipis jika mengingat saat ini justru negara mengopinikan moderasi beragama. Jika umat paham makna mendalam tujuan penerapan Islam washatiyah maupun revitalisasi Al-Qur’an adalah bagian dari arus moderasi Islam yang arus ini ternyata dibawa oleh barat.

Dalam buku Building Moderate Muslim Network pada bab 5 tentang Road Map for Moderate Network Building in the Muslim world atau peta jalan membangun jaringan Moderat di dunia muslim. Barat telah memberi ciri muslim moderat adalah mereka yang menyebarluaskan paham-paham kunci peradaban demokrasi termasuk didalamnya gagasan tentang HAM, kesetaraan gender, pluralisme serta melawan terorisme dan bentuk-bentuk legitimasi kekerasan.

Dengan adanya revitalisasi Al-Qur’an ini barat menginginkan agar kaum muslimin sejalan dengan pemikiran dan ide-ide barat karenanya dirancang kan sebuah konsep yang berasal dari otak-atik agar sesuai dengan kepentingan barat. Seperti konsep washatiyah, mereka mengatakan bahwa Islam washatiyah adalah Islam yang moderat atau pertengahan dan toleran maksudnya adalah dengan sikap tengah-tengah, sedang tidak ekstrem kiri maupun ekstrem kanan. Selain itu juga ingin dipahami sebagai umat yang serasi dan seimbang karena mampu memadukan dua kutub agama terdahulu yaitu Yahudi dan Nasrani.

Baca juga Tulisan Lain Dari Mariani :

POTRET BURAM MASYARAKAT SEKULER

Dalil yang barat biasa gunakan yaitu surah Al Baqarah ayat 143, padahal memaknai sikap washatiyah dengan sikap moderat adalah penyesatan. Konsep ini akan mengantarkan kaum muslimin tidak terikat lagi dengan syariat Islam. Kaum muslimin akan mencari jalan tengah agar bisa memadukan dengan konsep barat.

Karena itu publik bisa melihat konsep-konsep pluralisme, sebagai salah satu contoh bahayanya penerapan ide tersebut.

Seperti itulah gambaran jika washatiyah dimaknai dengan ala berpikir barat   Lantas bagaimana Islam memandang konsep washatiyah?

Kata washatiyah dalam bahasa Arab bermakna al-khiyar yaitu pilihan. Maksudnya adalah orang-orang yang terpilih diantara umat manusia yang memiliki sifat adil. Sifat adil yang dimaksud adalah tidak mencampur adukkan yang Haq dengan yang bathil dalam merealisasikan Al-Qur’an. Jadi jika washatiyah dimaknai sebagai Islam moderat atau pertengahan dan toleran justru akan semakin menjauhkan kaum muslimin dari ajaran Islam.

Begitu pula dengan agenda revitalisasi Al-Qur’an, agenda ini sebenarnya adalah bentuk liberalisasi Islam dengan cover moderasi bahkan revitalisasi Al-Qur’an merupakan taghrib atau westernisasi  bahkan sekularisasi ajaran Islam sebab dalil-dalil Al-Qur’an bisa diotak-atik sesuai dengan kepentingan barat. Jelas ini membahayakan akidah kaum muslimin. Sebab syariat Islam diibaratkan halnya dengan menu prasmanan yang bisa dipilih sesuai keinginan dan membuang hal yang tidak disukai.

Arus moderasi beragama adalah usaha agar Islam tidak terlihat sebagai kekuatan praktis yang mampu memberi solusi atas permasalahan umat manusia. Selain itu konsep moderasi tidak membedakan adabtasi antara perkembangan zaman dalam menghukumi fakta yang ada dengan ketundukan fiqih Islam. Yang ada fiqih Islam dipaksa tunduk pada realitas saat ini yang rusak dan merusak.

Karena itu kaum muslimin seharusnya kembali pada ajaran Islam kaffah. Tidak ada dalam Al-Qur’an kaum muslimin moderat yang ada kaum muslimin yang mengambil Islam secara menyeluruh seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 208.

Pengamalan fiqih Islam dengan benar akan menjadikan sebuah kebangkitan seperti para pendahulu kita yang mengkaji Islam sampai pada penerapan dari setiap ajaran Islam.

Kaum muslimin mengikuti gaya hidup barat ketika khilafah sebagai sistem pemerintahan telah di hancurkan oleh barat pada tahun 1924 Masehi. Dari sinilah semua makna syar’i terkait syariat Islam dipelintir dengan metode bahasa asing.

Dengan demikian sejatinya arus moderasi Islam yang terwujud dalam paham Islam washatiyah maupun revitalisasi Al-Qur’an tidak pernah dikenal kaum muslim sebelumnya. Ajaran tersebut adalah ajaran baru yang sangat bertentangan dengan akidah umat Islam.

Allahu a’lam bissawab

 

*Berkomentarlah di kolom komentar dibawah dengan bijaksana yang menginspirasi dan bertanggung jawab.Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti yang diatur dalam UU ITE.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *