POTRET BURAM MASYARAKAT SEKULER

- in BERITA, HUMANIORA, OPINI
372
0

POTRET BURAM MASYARAKAT SEKULER

Oleh : Mariani Pegiat sosial media

Beberapa waktu lalu publik di kejutkan dengan kasus satu keluarga yang ditemukan dalam keadaan sudah meninggal dunia di citra garden 1 exstension kalideres. Kejadian ini masih menjadi misteri, pihak kepolisian masih mengusut kasus ini. Sebelumnya di sebutkan jika penyebab kematian Rudyanto Gunawan (71) yang merupakan kepala rumah tangga, kemudian istrinya K.Margaretha Gunawan (68), anaknya Dian(42), serta adik ipar Rudiyanto, Budyanto Gunawan (68), akibat kelaparan, (Kumparannews).

Hasil pemeriksaan dari forensik (medis) mengatakan bahwa keempat korban yang meninggal itu sudah lama tidak mendapatkan asupan makanan maupun minuman, hal ini terlihat dari otot-ototnya yang sudah mengecil.

Namun dugaan ini membawa sangsi sebab menurut keterangan kerabat ekonomi korban dalam kondisi yang cukup. Bahkan korban juga tidak pernah mengontrak rumah dan sempat memiliki kendaraan bermotor, (Republika.co.id, Jakarta).

Namun keterangan ketua RT setempat, Asiung, korban sempat menunggak tagihan listrik pada Agustus 2022 kemudian meminta agar PLN memutus aliran listrik dibulan Oktober lalu. Penyelidikan pun masih membawa teka-teki meskipun keluarga tersebut sudah 20 tahun tinggal di perumahan itu, namun mereka sangat tertutup dengan warga setempat.

Saking tertutupnya, bahkan kematian keluarga itu baru terungkap setelah tiga Minggu warga mencium aroma busuk dari dalam rumah berpagar tinggi itu. Sungguh kejadian yang tragis dan miris. Sudah menjadi rahasia umum Pola hubungan tetangga kehidupan perumahan modern cenderung individualistis, tidak ada kepedulian dan hubungan sosial kemanusiaan. Pola seperti ini dipengaruhi oleh cara pandang sekulerisme kapitalisme yang rusak dan merusak.

Sekularisme membuat aturan agama diasingkan dalam kehidupan bermasyarakat, kapitalisme menganggap bahwa masyarakat terdiri dari individu-individu saja. Jika urusan individu selesai maka masyarakat akan sejahtera dan bahagia. Jadi titik fokus perhatiannya hanya pada kepentingan individu-individu saja. Sementara negara bekerja untuk kepentingan individu.

Alhasil kehidupan yang jauh dari agama membentuk masyarakat yang miskin iman, pilihan pilihan yang mereka buat hanya mengedepankan rasa kenyamanan diri sendiri. Sifat masyarakat ini diperkuat oleh peran negara yang membiarkan model pembangunan perumahan kapitalistik termasuk pembangunan smart city yang mengedepankan teknologi yang akan mengikis hubungan sosial dan nilai humanisme. kasus ini juga menggambarkan lemahnya peran pemimpin umat dalam bentuk kepedulian terhadap rakyat.

Jika konsep bertetangga dan bermasyarakat kapitalis sekuler membawa bencana, namun tidak dengan sistem Islam yang disebut dengan istilah khilafah. Perkara bertetangga dan bermasyarakat dalam sistem Islam bukan dipandang sebagai interaksi sosial yang manusia berkumpul satu dengan yang lain saja, melainkan disebut bahwa masyarakat itu terdiri dari kumpulan manusia, pemikiran, perasaan dan peraturan. Maka pemikiran, perasaan dan peraturan dalam masyarakat harus terikat pada syariat Islam.

Bagaimana Konsep bertetangga dalam Islam

Berbeda dalam sistem islam, di mana perhatian terhadap tetangga sangat  kuat, bahkan dikaitkan dengan keimanan Rasulullah SAW (Sallahu alaihi wasallam, red) juga telah mencontohkan perhatian beliau kepada umatnya dalam kehadirannya sebagai pemimpin.

Sebagaimana dalam sebuah hadits, Mu’adz bin Jabal Radhiallahu Anhu pernah berkata: “wahai Rasulullah SAW, apa hak tetangga itu?” Rasulullah SAW menjawab,” jika ia berutang kepadamu,maka berilah ia utang. Jika ia meminta bantuan maka bantulah ia. Jika ia membutuhkan sesuatu maka berilah ia. Jika ia sakit, maka kunjungilah. Jika ia mati, maka selenggarakanlah jenazahnya. Jika ia mendapatkan kebaikan,maka bergembiralah dan ucapkanlah suka cita kepadanya. Dan jika ia tertimpa musibah turutlah bersedih dan berduka. Janganlah engkau menyakitinya dengan api Periuk belangamu, kecuali engkau membagi sebagian kepadanya. Janganlah engkau mempertinggi bangunan rumahmu, agar bisa melebihi bangunan rumahnya dan menghalangi masuknya angin kecuali dengan izin darinya.”

Hadist ini akan di pahami oleh individu dan masyarakat sebagai syari’at Islam dalam bertetangga yang wajib mereka jalankan. Jika aturan ini dijalankan maka tidak akan dijumpai kejadian seperti kematian satu keluarga di kalideres. Sebab mereka memahami hak dan kewajiban dalam bertetangga. Tidak juga dijumpai masyarakat yang individualis.

Syariat ini tidak hanya dipahami oleh individu dan masyarakat namun juga negara, maka khilafah sebagai institusi pengurus umat akan menetapkan kebijakan terkait tata letak dan  bangunan perumahan.

Seperti pada masa Andalusia saat Islam menguasai wilayah Andalusia, perumahan di wilayah itu diatur menggunakan sistem blok seperti kluster perumahan pada masa modern. Satu blok terdiri dari delapan atau sepuluh bangunan rumah. Pengaturan seperti ini melahirkan kerapian dan mengefektifkan pengamanan lingkungan.

Selain pemukiman muslim ada juga beberapa kawasan pemukiman non-muslim termasuk Yahudi dan Nasrani. Sekalipun tempat-tempat ini terpisah namun tidak menghalangi masyarakat bersosialisasi Karena kehidupan sosial masyarakat khilafah mencerminkan akhlak mulia.

Dengan demikian terbukti Hanya dalam naungan Islam-lah hubungan sosial kemasyarakatan dapat terjalin dengan baik, bahkan meski berbeda keyakinan. Allahu a’lam bissawab.

(Catatan Redaksi : Isi dan maksud Opini merupakan hasil pikiran,  serta menjadi tanggungjawab penulis).

*Berkomentarlah di kolom komentar dibawah dengan bijaksana yang menginspirasi dan bertanggung jawab.Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti yang diatur dalam UU ITE.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *