Memerangi Hoaks : Pers, OKP, KPU Majene, dan Akademisi Unsulbar Diskusi Memerangi Hoaks

- in BERITA, HUMANIORA, MAJENE, PENDIDIKAN, POLITIK, SULBAR
269
0

Memerangi Hoaks : Pers, OKP, KPU Majene, dan Akademisi Unsulbar Diskusi Memerangi Hoaks

Dari kiri : Komisioner KPU Majene Hasanuddin Zulkarnain, Ketua KPU Majene Arsalin Aras, Akademisi Unsulbar Muhammad (pemantik diskusi). KPU Majene menyelenggarakan forum diskusi melawan Hokas jelang Pemilu 2024, di Kafe Agung, Pantai DAto, Kel. Baurung, Kec. Banggae, Kab. Majene, Sulawesi Barat, Sabtu (12/11/2022). (DN/SANDEQPOSNews.com).

Kenapa kemudian kita lakukan itu, karena kami misalnya melihat di media sosial hari ini tahapan sudah jalan, pencalonan belum, tapi sudah berbagai informasi dan berita yang sifatnya mungkin mengerdilkan salah satu pihak, misalnya,” kata mantan aktivis HMI Cabang Makassar itu.

SANDEQPOSNews.com, Majene – Komisi Pemilihan Umum (KPU) kabupaten Majene melaksanakan forum diskusi dengan tema : Bersama melawan Hoaks (informasi bohong) menuju Pemilu 2024 Yang Berkualitas, di Kafe Agung, Pantai Dato, Kelurahan Baurung, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Sabtu pagi 12 November 2022.

Diskusi tersebut berlangsung 3 jam dimulai pukul 09:00 hingga 12:00, Wita, dengan menghadirkan ketua KPU Majene Arsalin Aras, SH, Komisioner KPU Majene Zulkarnain Hasanuddin, S.Sos (Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan Partisipasi Masyarakat /Ketua Divisi Perencanaan Data dan Informasi) dan pemantik diskusi akademisi Universitas Sulawesi Barat, Muhammad, S.IP, yang juga merupakan dosen Ilmu sosial dan politik pada Fakultas FISIP di Unsulbar.

Sementara dari peserta diskusi politik dan penyebaran informasi terkait pemilu ini yakni dari kalangan Pers, Daeng Nompo 9SANDEQPOSNews.com), Muh. Ali Mukhtar (iNewsTV/MNC grup), Fajaruddin Soenoe (MamujuPos.com), Ardedy (Pare Pos), Mabrur (Radar Sulbar), Irwan Abdul Latif (MetroTV), Muh. Rizaldy Andi Jemmang (TVRI), Mutawakkir (MandarNews.com), dan Syahril (Tabloid JalurInfo Sulbar). Dari OKP atau lembaga mahasiswa se kabupaten Majene diantaranya, HMI, GMKI, Fatayat, dan PMII.

Ketua KPU Majene, Arsalin Aras, diawal pembukaan menyampaikan bahwaforum diskusi tersebut dilaksanakan untuk memandang satu titik bahwa Hoaks itu tidak tepat atau tidak benar berada dalam lingkup tahapan pemilu 2024.

Kenapa kemudian kita lakukan itu, karena kami misalnya melihat di media sosial hari ini tahapan sudah jalan, pencalonan belum, tapi sudah berbagai informasi dan berita yang sifatnya mungkin mengerdilkan salah satu pihak, misalnya,” kata mantan aktivis HMI Cabang Makassar itu.

Untuk itu, lanjutnya, KPU Majene mencoba masuk dikondisi seperti itu. Ia berharap agar ada kesimpulan dari forum ini yang bisa menjadi bagian dari KPU Majene melalui divisi sosialisasi, kepada masyarakat.

“Dari hasil masukan diskusi nantinya kami bisa ber-sosialisali ke masyarakat terkait tahapan pemilu,” ujarnya.

Komisinioner KPU Majene, Zulkarnain Hasanuddin, selaku moderator diskusi, mengatakan kegiatan ini sedikit berbeda, karena didesain dalam model forum diskusi, karena tidak ada narasumber selain pemantik diskusi.

“Semua yang hadir bisa memberikan Persfektif (argumentasi/pikiran, dan masukan) ataupun saran-saran berdasarkan tema yang diusung,” ucapnya.

Menurutnya, semangat dari tema yang diangkat adalah karena saat kini KPU Majene sudah memasuki tahapan pemilu, sehingga salah satu yang diangkat hari ini adalah menyebarnya berita-berita yang tidak benar (Hoaks).

Ia mengambil contoh dari hasil diskusi di kendari bahwa tahun 2023 ini, menjadi tahun Hokas secara masif. Karenanya hampir semua dunia digital bisa saja menjadi produsen hoaks.

“Tidak tentu dari kalangan mana saja, namun bisa saja semua dari kalangan kita (forum diskusi KPU Majene) yang menjadi sumber berita hoaks. Makanya kita harus kemudian menjadi bagian dari memerangi hoaks-hoks ini, walaupun kita-kita ini punya keyakinan yang sama bahwa tidka bisa hilang  sepenuhmya, tapi paling tidak kita semua insan yang ada di sini menjadi terdepan ketika ada hal-hal yang tidak benar tentang demokrasi atau pemilu, paling tidak kita menjadi terdepan yang meluruskan atau memberi klarifikasi kepada pemilih,” ujarnya.

Berita Terkait :

Kick Off Cek Fakta Pilkada 2020: Selenggarakan Cek Fakta Pencoblosan Pilkada di 20 Wilayah, AMSI Tanda Tangani MoU dengan KPU dan Bawaslu

AMSI Sulbar dan KPU Mamuju Kerjasama Gelar Workshop Election Reporting

Ketua Umum AMSI,Wenseslaus Manggut : AMSI Berkepentingan Menjaga Kualitas Produk Jurnalistik

Menurut Zulkarnain, tahun 2019 lalu partisipasi pemilih di kabupaten Majene cukup tinggi dibanding secara umum keseluruhan pemilih indonesia, walaupun targetnya di atas, itu diakibatkan oleh masifnya berita yang tidak benar tentang pemilu.

“2019 lalu, banyak berita tentang kotak suara yang dibuat dari Kardus, itu kan yang paling sangat menghiasi dunia medsos , sampai diuji coba kekuatannya dengan diduduki oleh yang memiliki berat badan yang over limit, tapi tidak apa-apa (kardusnya tetap utuh, red).

Dia berharap dari diskusi tersebut, semua peserta diskusi mempunyai peran yang sama dalam peran pemilu tanpa hoaks.

Pemantik diskusi Muhammad, S.IP, juga sebagai Dosen di Unsulbar, diawal menyampaikan apresiasi kepada ketua KPU Majene, Arsalin Aras dan Zulkarnain Hasanuddin.

“Kita sebagai warga Majene dan sulbar pada umumnya patut berbangga karena ada beliau-beiau ini  yang mengawal KPU di Majene, akhirnya Majene itu terkenal di Indonesia karena banyak penghargaan di level nasional,” kata Muhammad  mantan tim seleksi komisioner KPU Majene itu.

Baca juga :

Terkait penyelengaraan pesta demokrasi (pemilu), Muhammad mengungkapkan, diskusi untuk mencari solusi memerangi Hoaks, karena ada keresahan dari KPU Majene bahwa saah satu yang paling besar membuat orang malas pergi memilih karena Hoaks.

“Tingginya angka Golput (golongan putih : tidak ikut memilih, red) di Indonesia, itu karena Hoaks. walaupun angka pemilih di Majene cukup tinggi. Sehingga (akibat Hoaks) ini akan menurunkan partisipasi untuk ikut memilih.” ujarnya.

Muhammad mengingatkan di tahun 2019 lalu sebagai pembelajaran pada Pilpres, jika Hoaks tidak diperangi maka daya hancurnya luar biasa, salah satunya menimbulkan perpecahan sesama anak bangsa. Untuk itu, kata Dosen Ilmu politik Unsulbar tersebut, mengatakan bahwa kekuatan pemuda bersama dengan Pers dalam membentuk opini publik sangat luar biasa.

“Jari kita bisa saja mempunyai daya hancur yang sangat tinggi, menyebabkan kepanikan , perpecahan, bahkan public ditrass (gangguan publik), orang bisa tidak lagi percaya sama negara. Pada khusunya barangkali menjelang pemilu orang tidak agi percaya sama KPU,” jelasnya.

Namun, Muhhammad, masih optimis dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap KPU, terutama bagi KPU Majene sebagai penyelenggara pemilu. hal itu disampaikan dengan pembuktian dari hasil survey yang dilakukan di masyarakat, tingkat kepercayaan terhadapa KPU Majene masih tinggi.

“Termasuk saya kemarin melakukan survey, kepercayaan masyarakat cukup tinggi kepada KPU dalam menjalankan tugasnya. Terbukti di Majene ada 99% tingkat kepercayaan terhadap KPU Majene, itu artinya bukan saja percaya tetapi kerja-kerja KPU Majene ini luar biasa dalam meningkatkan partisipasi masyarakat. Jadi memang kita sepakat di sini, hadir di sini untuk menyatukan persepsi kita bahwa hokas itu sesuatu yang harus diperangi  menjelang pemilu ini,” ujarnya.

Ia berharap agar dalam forum diskusi tersenut melahirkan gagasan-gagasan, bahwa bagaimana standar mengkategorikan Hokas sebenarnya, karena banyak sekali hokas yang tersebar.

“Pers itu adalah salah satu pilar demokrasi, seharusnya Pers juga berfungsi sebagai variabel dalam sistem politik kita untuk mengawal demokrasi tetap pada relnya. Sehingga kebebasan Pers itu tidak boleh kita bredel (penghetian terbit oleh pemerintah terhadap media massa ; melawan hukum),” pungkasnya.

Diskusi ini pun semakin bersemangat dengan adanya sejumlah peserta dari Wartawan dan Mahasiswa perwakilan Lembaga Kemahasiswan yang antusias untuk menyampaikan gagasannya terkait perkembangan dan akibat dari Hoaks. Para peserta yang diberi kesempatan itu menyampaikan sejumlah gagasan dan saran ke KPU Majene, bagaimana mengetahui ciri-ciri serta cara memerangi Hoaks yang saat ini makin membias di media sosial.

Ali Mukhtar, wartawan iNews/RCTI (MNCTV Grup) berargumentasi bahwa Hoaks mulai merajalela di media sosial sejak industri perangkat digital sudah mualai memasuki Indonesia. Masyarakat tanpa melihat usia pun sudah banyak yang memilki perangkat digital seperti Handphone (HP) yang dapat memberi peluang untuk terjebak dalam penyebaran Hoaks.

“Hoaks itu mulai marak ketika perangkat Digital seperti Handphone sudah banyak di Indonesia, untuk memerangi kembali kepada diri masing-masing untuk tidak ikut menyebarkan,” kata wartawan senior di Sulbar itu.

Peserta diskusi KPU Majene memerangi Hoaks jelang pemilu 2024, terdiri dari Pers, OKP dan masyarakat, di kafe Agung Pantai Dato, Majene, Sabtu (12/11). (DN/SANDEQPOSNews.com).

Sementara Pimpinan Redaksi Mamuju Pos, Fajaruddin Sonoe, lebih menyinggung internal Pers khususnya bagi wartawan yang meliput dan mengolah berita tanpa melakukan konfirmasi ke Narasumber berita. Fajar, sapaan Fajaruddin Sonoe, menyebutkan masih ada wartawan di Majene yang belum memenuhi standar kelayakan untuk menjadi seorang wartawan namun sudah menjalankan Tugas-tugas kewartawanan.

“Peran media untuk memerangi berita hoaks mesti juga diperhatikan oleh para wartawan. Contohnya masih banyak yang sesungguhnya belum memiliki standar untuk menjadi wartawan namun sudah menjalankan profesi kewartawanan, padahal untuk menjadi seorang wartawan mesti sudah memiliki sertifikat uji kompetensi ke-wartawan-an, sehingga banyak juga ditemui adanya oknum wartawan ini yang hanya copas informasi di media sosial tanpa melakukan check data, atau kebenaran daripada informasi tersebut sehingga berpotensi Hoaks,” kata senior wartawan yang malang meintang di dunia pers ini.

Kalangan mahasiswa tak kalah seru memberikan agagsannya soal Hoak, satu diantaranya adalah mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Majene. Ia mengatakan apa motif dibalik penyebaran hokas ini, kenapa hoaks itu tersebar, dan apa yang menjadi pemicu hoaks ini mulai tersebar.

“Setelah saya perhatikan, bahwa hoaks itu tersebar kebanyakan dari para penguasa-penguasa, ini salah satunya, tetapi tidak seluruhnya karena penyebar hoaks yang lain biasanya dilakukan oleh produsen (person) hoaks. Saya juga mengakui peranah melakukan penyebaran hoaks, karena standarisai hoaks hanya satu yaitu berita bohong,” aku aktivis HMI Majene itu.

Menurutnya, hoaks yang dilakukannya bukan untuk menyerang oknum-oknum tertentu, tapi hanya untuk seru-seruan saja bagi dirinya sendiri, karena kata dia teman diskusinya kurang referensi. Sementara, kata dia, referensi yang tidak benar yang diberikan ke temannya itu langsung memercayainya.

Pengurus HMI Cabang Majene itu menyebutkan tidak sedikit dari masyarakat yang lebih mudah menerima informasi (hoaks) karena tidak didasari, karena kekurangan referensi.

Usai Diskusi Bersama melawan Hoaks menuju Pemilu 2024 Yang Berkualitas, itu dilanjutkan dengan makan bersama dengan menu prasmanan ikan bakar, di bawah rindang pepohonan Ketapang, dengan pemandangan dari atas tebing Pantai Dato.

Editor : SAN/Daeng Nompo’

*Berkomentarlah di kolom komentar dibawah dengan bijaksana yang menginspirasi dan bertanggung jawab.Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti yang diatur dalam UU ITE.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *