Menyedihkan!! Tidak Ada Ambulans Jenazah di Puskesmas, Seorang Warga Meninggal Terpaksa Ditandu Pakai Sarung Pulang ke rumahnya sejauh 5 kilometer

Menyedihkan!! Tidak Ada Ambulans Jenazah di Puskesmas, Seorang Warga Meninggal Terpaksa Ditandu Pakai Sarung Pulang ke rumahnya sejauh 5 kilometer

Jenazah Darwis (67 tahun) terpaksa ditandu menggunakan sarung dan bambu seadanya oleh keluarganya dari Puskesmas Campalagian Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar, Minggu sore (18/9/2022). Jenazah tersebut terpaksa ditandu karena di Puskesmas tersebut tidak ada Ambulans jenazah. (Screenshot video viral/DN-sandeqposnews.com)

SANDEQPOSNews.com, Polman – Sangat menyedihkan, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Propinsi Sulawesi Barat, tidak memiliki Ambulans.

Akibatnya seorang pasien Bernama Darwis (67 tahun) meninggal dunia terpaksa dipulangkan ke rumahnya oleh keluarganya dengan cara ditandu menggunakan sarung dan bambu sejauh 5 kilometer ke Desa Labuang, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali, tempat tinggal pasien meninggal tersebut.

Dalam video berdurasi 03 menit 54 detik yang dibagikan secara berantai hingga ke media sosial (medsos), terlihat keluarga korban mengemasi almarhum di ruang perawatan Puskesmas Campalagian dengan memasukkan jenazahnya ke dalam sarung kotak-kotak lalu ditandu menggunakan sebatang bambu secara bergantian melewati pinggiran jalan poros Polman-Majene-Mamuju (trans Sulawesi) untuk bisa sampai ke Desa Labuang.

Salah satu keluarga Almarhum, Subaer, kepada wartawan mengatakan ada ambulans di sana (Puskesmas Campalagian) tapi Ambulans rujukan, sementara ambulans jenazah sementara perjalanan ke Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

“Ada ambulans di sana tapi ambulans rujukan, sementara ambulans mayat ke Makassar,” ucap keluarga almarhum, Subaer kepada wartawan, Minggu sore (18/9/2022) .

Namun yang membuat keluarga almarhum kecewa, karena tidak mendapat respon baik pada saat meminta bantuan agar dicarikan ambulans lain.

“Kita tanya pegawainya bisa dicarikan ambulans, pegawainya cuma jawab tidak ada nomornya disini, kita tidak tau,” ungkap Subaer.

Sementara itu, Marda adik Almarhum menuturkan, “Pertamanya saudara saya bawa ke Puskesmas dia mengalami keluhan sakit dada tembus ke belakang, tekanan darahnya juga rendah.

“Dan kata dokter yang periksa saudara saya mengalami sakit asam lambung dan memang waktu dibawa ke Puskesmas dia muntah-muntah.”

Usai shalat dzuhur, cerita Marda, kakaknya (alm) yang masuk ke wc untuk buang air kecil namun tiba-tiba mengalami sesak nafas, “Lalu kami panggil perawat yang jaga (piket) untuk di tangani.”

Setelah selesai shalat azhar, lanjutnya Marda, kakaknya masuk lagi ke wc untuk buang air lagi, tapi disaat keluar dari wc tiba-tiba kambuh lagi sesak nafasnya.

“Kami panggil lagi petugas jaga meminta agar pasien di bantu dengan alat pernafasan. Sambil meminta surat rujukan ke RSUD Polewali, spontan saat itu juga para pegawai Puskesmas membuatkan surat rujukan tersebut. Namun, belum sempat dirujuk Kakak saya sudah meninggal” ungkap Marda dengan mata berkaca-kaca.

Tidak sampai di situ, Marda pun meminta tolong ke petugas Puskesmas Campalagian untuk agar jenazah kakanya bisa d bawa pulang menggunakan mobil ambulans. Namun ironis, pihak Puskesmas berdalih bahwa jenazah tersebut tanggungan pihak.keluarga untuk memulangkan kerumah duka.

“Pihak Puskemas juga bilang mobil ambulance jenazah tersebut mengalami kerusakan dan ambulance yang satunya cuman bisa dipakai untuk rujukan saja tidak bisa bawa jenazah,” ujarnya.

Berupaya mencari Ambulans beberapa jam tapi tidak mendapatkannya, terpaksa keluarga Alm. Darwis berembuk dan nekat menandu jenazah Darwis menggunakan Sarung dan Bambu sebagai usungan untuk Kembali ke rumahnya di Desa Labuang, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polman, sejauh 5 kilometer melewati jalan Trans Sulawesi atau poros Polman-Majene-mamuju, mereka menandu melewati arus lalulintas yang padat di hari sore itu.

Editor : Daeng Nompo’

*Berkomentarlah di kolom komentar dibawah dengan bijaksana yang menginspirasi dan bertanggung jawab.Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti yang diatur dalam UU ITE.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *