Warga Pebukitan Pa’leo To Banda Sangat Membutuhkan Air Bersih Untuk MCK

- in BERITA, LINTAS DAERAH, MAJENE, SULBAR
1126
0

Warga Pebukitan Pa’leo To Banda Sangat Membutuhkan Air Bersih Untuk MCK

Suasana rumah warga Lingkungan Pa’leo to Banda di puncak pebukitan Pa’leo, Kelurahan Pangaliali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Berada di puncak pebukitan dengan panorama alam yang indah membentang di depannya, Rabu (2/2/2020). (DN/SANDEQPOSNews.com).

SANDEQPOSNews.com, Majene — Setetes air adalah sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup di muka bumi, Seperti tetumbuhan dan hewan, termasuk manusia juga sangat membutuhkan Air bersih sebagai kebutuhan pokok utama untuk minum, mandi dan cuci kakus (MCK).

Seperti halnya bagi warga yang bermukim di Lingkungan Pa’leo to Banda, Kelurahan Pangaliali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, saat kini sangat membutuhkan air bersih itu. Pa’leo to Banda berada di puncak pebukitan, untuk mencapainya dibutuhkan kendaraan motor dengan mengendara ekstra ketat.

Sebab untuk menuju ke puncak pebukitan harus melewati pemukiman padat penduduk yang memiliki jalur jalan setapak kecil berkelok dan menanjak di Lingkungan Pa’leo yang juga berada di pebukitan, namun masih di bawah pemukiman warga Pa’leo to Banda.

Kedua Lingkungan pemukiman tersebut memiliki geografis  dengan kemiringan terjal, rumah-rumah penduduk saling berdekatan ada pulayang berhimpitan saling mengikat satu sama lain di atas tanah bertangga atau membentuk terasering. Sekalipun demikian dua wilayah ini masih berada dekat dari kota kabupaten dan wilayah pebukitan itu berhadapan dengan kantor bupati Majene di pinggiran Jalan Trans Sulawesi, Poros Majene – Mamuju, Jl. Gatoto Subroto.

Nun Jauh terlihat Masjid Agung Ilaikal Mahir dan di sisi kiri adalah kantor bupati Majene, ketika zoom kamera dari puncak pebukitan Pa’leo to banda, Rabu (2/2/). (DN/SANDEQPOSNews.com).

Secara umum geografis pebukitan Pa’leo terdiri dari bebatuan kapur, namun di atas tanah berbatu itu tumbuh berbagai jenis pohon, seperti pohon sukun, Pisang, Belimbing dan pohon Jati. Selain rumput ilalang, juga pohon bambu dan pohon mangga, serta pohon palm juga tumbuh subur. Udaranya sejuk dan jauh dari suara bising.

Berbagai jenis pohon dan tumbuhan lainnya dapat subur di atas tanah bebatuan Kapur ini di Lingkungan Pa’leo to Banda, Majene. (DN/SANDEQPOSNews.com).

Jika berada di puncak bukit Pa’leo to Banda, suasana batin menjadi nyaman sebab mata dapat memandang panorama yang menakjubkan. Kota kabupaten Majene, pantai dan lautan serta pemukiman yang berada di poros trans Sulawesi dapat terlihat begitu indahnya.

Tampak dari jauh Gedung Sekolah Tinggi Agama Islma Negeri (STAIN) di pebukitan Passarang, Kelurahan Totoli, Kec. Banggae, Majene. (DN/SANDEQPOSNews.com).

Berbeda dengan warga yang bermukim di  Lingkungan Pa’leo yang berada di bawah puncak bukit itu, lebih banyak daripada penduduk di Lingkungan Pa’leo to Banda. Dan kebutuhan air di Lingkungan Pa’leo masih dapat terpenuhi dibanding warga yang berada di Lingkungan Pa’leo to Banda.

Soal air bersih bagi warga Pa’leo to Banda di puncak pebukitan itu, mereka mengandalkan sumur bor yang diperoleh dari bantuan sarana dan prasarana air bersih sumur bor dalam dari Kementerian Energi dan Daya Mineral Badan Geologi pada tahun 2019, tapi itu kini sudah tidak lagi berfungsi, mesinnya rusak permanen.

Toreng air (bak penampungan air) warna bir itu tidak lagi terisi air karena mesin sumur bor dalam yang dibantukan oleh Kementerian Mineral dan energi tahun anggaran 2019 sudah tidak berfungsi lagi (rusak permanen). (DN/SANDEQPOSNews.com).

Seorang warga Lingkungan Pa’leo to Banda, Nasaruddin menurturkan mesin sumur bor dalam bantuan dari kementerian tersebut sejak tahun 2019, itu sudah tidak berfungsi (macet) sejak tahun 2020 lalu. Ia berharap agar pemerintah bisa kembali membantu mesin sumur bor dalam itu agar segera diperbaiki, agar warga bisa kembali mendapatkan air.

Kondisi mesin sumur bor dalam tahun anggaran 2019 yang berfungsi menghisap air dari dalam tanah, ini sudah rusak. (DN/SANDEQPOSNews.com).

“Kami sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah, agar bisa diperbaiki ini mesin supaya kami di sini bisa lagi dapat air pak,” harap Nasaruddin kepada pemerintah saat wawancara dengan SANDEQPOSNews.com.

NAsaruddin, warga Lingkungan Pa’leo to Banda, Kec. banggae, Kab. Majene, Sulbar. (DN/SANDEQPOSNews.com).

warga lainnya, Syahril menyebutkan, dari dua mesin sumur bor dalam yang dibantukan oleh Kementerian Energi dan daya mineral itu, satu mesin sumur bor dalam yang berada di Lingkungan Pa’leo masih berfungsi, padahal bantuan tersebut pada tahun 2016. Selisih jarak 2 tahun dengan yang ada di puncak pebukitan di Lingkungan Pa’leo to Banda, yaitu pada tahun 2019.

Toreng penampungan air dan Mesin sumur bor dalam tahun anggaran 2016 dari Kementerian Mineral dan Energi untuk Lingkungan Pa’leo ini masih berfungsi menghisap air dari dalam tanah. (DN/SANDEQPOSNews.com).

“Ada dua mesin pak, tapi yang mesin tahun 2019 itu cepat rusak mesinnya. Padahal baru dua tahun lalu dipasang tapi rusak waktu tahun 2020, sementara mesin sumur bor yang di bawah (Lingkungan Pa’leo) mulai dipasang tahun 2016, Tapi mesinnya masih berfungsi dan bisa menyedot air” ujar Syahril.

Toreng penampungan air dari Kemnterian Mineral dan Energi tahun anggaran 2019, baru dimanfaatkan satu tahun oleh warga Lingkungan Pa’leo to Banda sudah rusak pada tahun 2020. (DN/SANDEQPOSNews.com).

Untuk medapatkan sumber air agar MCK terpenuhi,  saat kini warga Pa’leo to Banda harus berjalan kaki ratusan meter ke rumah warga yang memiliki sumur bor.

Editor : Daeng Nompo’

*Berkomentarlah di kolom komentar dibawah dengan bijaksana yang menginspirasi dan bertanggung jawab.Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti yang diatur dalam UU ITE.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *