AJI Kota Mandar bekerjasama AJI Indonesia didukung Google News Initiative Webinar Literasi Kebencanaan Untuk Menangkal HOAKS Bencana

AJI Kota Mandar bekerjasama AJI Indonesia didukung Google News Initiative Webinar Literasi Kebencanaan Untuk Menangkal HOAKS Bencana

Para pemateri dan moderator Webinar Aji Kota Mandar, terkait Hoaks Bencana di indonesia, Selasa (13/4/2021). (ist).

SANDEQPONews.com, Sulawesi Barat – AJI Kota Mandar bekerjasama AJI Indonesia didukung Google News Initiative Webinar Literasi Kebencanaan untuk menangkal hoaks (berita bohong) soal kebencanaanyang kerap melanda negeri Indonesia.

Webinar secara virtual itu merupakan rangkaian Webinar yang dilaksanakan AJI dan Google News Initiative bertema besar “Literasi Kebencanaan di Indonesia untuk Menangkal Mis-Disinformasi”. Sedangkan AJI Kota Mandar bekerjasama AJI Indonesia dan didukung Google News Initiative melaksanakan webinar bertema “Jurnalis di Bencana: Antara Relawan dengan Pengabar”, Selasa 13 April 2021. Diskusi virtual ini diikuti lebih 20 orang dengan durasi waktu Webinar lebih dua jam dari pukul tiga sore sampai setengah waktu setempat.

JURNALIS di BENCANA : ANTARA RELAWAN DENGAN PENGABAR

Sejak tahun 2018, AJI dengan dukungan Google News Initiative telah mengadakan pelatihan cek fakta untuk jurnalis dan mahasiswa/akademisi Indonesia. Mengawali tahun 2021 dengan adanya beberapa peristiwa alam yang terjadi seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus dan lain sebagainya. Beberapa peristiwa seringkali dikaitkan dengan mitos, misalnya Indonesia negeri bencana karena telah dikutuk. Biasanya, setiap bencana di Indonesia diikuti dengan kemunculan hoaks bencana.

Foto atau video tentang bencana yang lain dinarasikan terkait dengan bencana yang baru saja terjadi. Masyarakat awam yang kurang literasi sangat mungkin terkecoh dengan hoaks (berita bohong) ini. Disisi lain media di Indonesia memiliki tantangan tersendiri untuk melakukan pemeriksaan fakta terkait hoaks bencana. Dalam konteks ini, media perlu memainkan perannya sebagai penjernih informasi, bukan malah mengamplifikasi informasi yang keliru.

Berdasarkan hal tersebut di atas, penting untuk berbagi informasi antara jurnalis, ekspertis, pemeriksa fakta, dan masyarakat mengenai literasi kebencanaan, sehingga meningkatkan kewaspadaan ketika muncul hoaks bencana. Oleh sebab itu, AJI dan Google News Initiative mengadakan rangkaian webinar bertema besar “Literasi Kebencanaan di Indonesia untuk Menangkal Mis-Disinformasi”.

Ketua AJI Kota Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin, mngatakan tema tersebut diangkat berdasar fenomena dua bencana alam terakhir yang terjadi di Sulawesi Tengah (Gempa Palu) dan Sulawesi Barat (Gempa Majene) yang banyak melibatkan jurnalis. Selain melakukan peran utamanya sebagai pengabar, juga banyak yang berperan sebagai relawan (volunteer). Sebagai pengabar jelas terlihat dampaknya (peran tradisional), tapi sebagai relawan, peran mereka tidak terlalu terlihat padahal realitas di lapangan peran mereka cukup besar. Ada yang berada langsung di garis depan di lapangan dan sebagai perantara dari donatur ke penyintas.

“Harapannya, meski terlibat sebagai relawan (peran kemanusiaan), seorang jurnalis tidak mengabaikan Kode Etik dan Kode Prilaku dalam mencari berita. Misalnya tidak mengurangi kemampuan mereka untuk menverifikasi informasi yang didapatkan serta tidak memiliki konflik kepentingan yang bisa merugikan masyarakat,” kata Muhammad Ridwan Alimuddin yang juga terlibat sebagai relawan gempa Majene, yang memiliki Pos Komando Bencana Gempa Majene di Deking Kecamatan Malunda, Majene, beberapa waktu lalu.

“Kami mengharapkan jurnalis memiliki pedoman awal tentang peran mereka di bencana, ketika menjadi relawan namun tetap menjalankan kegiatan profesinya sebagai jurnalis; meningkatkan pengetahuan literasi kebencanaan; dan memberi edukasi ke masyarakat tentang fungsi lain dari jurnalis,” imbuh Iwan, sapaan Muhammad Ridwan Alimuddin.

Foto Aji Kota Mandar

Webinar membicarakan hal menarik dan berbagi pengalaman dari pelaku di lapangan. Acara yang dimoderatori Harmegi Amin itu menghadirkan pembicara, yaitu Reny Sri Ayu, jurnalis Kompas, anggota AJI Kota Makassar. Dia (Reni) banyak melakukan liputan bencana alam, khususnya gempa di Sulawesi Tengah dan gempa di Sulawesi Barat. Pada hari kedua paska gempa sudah berada di Majene dan lama melakukan liputan tentang gempa Majene.

“Memang ketika saya datang, tugas utamanya adalah untuk meliput, tapi dalam proses itu kita tak bisa mengabaikan peran kemanusiaan kita. Kadang saya tidak tahan menyaksikan realitas di lapangan, misal ada ibu yang habis melahirkan tidak memiliki ASI dan dia harus dibantu ibu lain agar bayinya tidak kelaparan,” kata Reni dalam paparannya di Wbinar tersebut.

Baca juga :

Selain Reni, pembicara kedua adalah Zainal A. Ishaq, jurnalis mantan Ketua AJI Kota Kendari, dan Pemeriksa Fakta Tempo. Sewaktu gempa Palu, Ia lama tinggal di sana melakukan liputan sekaligus melakukan kegiatan kerelawanan. Sebagai pengecek fakta memberi wawasan kepada peserta bagaimana jurnalis tetap bisa melakukan pengecekan fakta secara maksimal meski berada di daerah bencana.

Menurut Zainal, “Sewaktu gempa Palu, saya bergabung dengan teman-teman relawan. Waktu itu kan saya freelance (Jurnalis lepas, red), jadi tidak ada kewajiban membuat dan mengirim berita. Belakangan saya banyak terlibat dalam gerakan agar ada semacam pusat informasi tentang apa yang terjadi di Palu, agar bukan hoaks yang tersebar. Selain itu, saya tetap melakukan kerja-kerja kerelawanan, misalnya membantu mencari tahu kerabat orang lain, yang mana kerabatnya meminta lewat media sosial.”

Video Gempa Majene Terkait :

Sedangkan pembicara ketiga adalah Neni Muhidin, seorang pegiat literasi di Nemu Buku, kota Palu, Sualwesi Tengah. Neni Banyak melakukan kegiatan literasi kebencanaan di Sulteng dan terlibat sebagai relawan. Banyak melihat aktivitas kerelawanan yang dilakukan oleh jurnalis.

“Seharusnya untuk kita di Indonesia bukan hanya menguasai enam literasi dasar, tapi tujuh. Literasi dasar yang ketujuh itu adalah Literasi Kebencanaan. Dan agar masyarakat memiliki kesadaran, kepada mereka bukan hanya dikabarkan ‘peristiwa’ tapi juga apa yang terjadi sebelum dan sesudah itu,” terang Neni Muhidin.

Sumber Rilis : Ketua AJI Kota Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin

Editor : Daeng Nompo’

*Berkomentarlah di kolom komentar dibawah dengan bijaksana yang menginspirasi dan bertanggung jawab.Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti yang diatur dalam UU ITE.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *