Rp4 Miliar Diserahkan BNPB ke Pemerintah Sulbar Untuk Warga Terdampak Gempa Majene-Mamuju

- in BENCANA, BERITA, MAJENE, MAMUJU, NASIONAL, SULBAR
60
0

Rp4 Miliar Diserahkan BNPB ke Pemerintah Sulbar Untuk Warga Terdampak Gempa Majene-Mamuju

Tampak Sekolah Dasar Negeri No. 18 Banua Kecamatan Malunda, bangunan pada bagian depan ambruk akibat gempa Jum’at dini hari (15/1). Pada bagian sebelah kanan bangunan depan juga mengalami hal sama. Sejulah sekolah dasar, SMP dan SMA/sederajat juga mengalami rusak parah, hingga rumah dan toko milik warga, Jum’at (15/1). (Foto Daeng Nompo’/SANDEQPOSNews.com).

 

SANDEQPOSNews.com – Gempa bumi susulan berskala magnitudo 6,2 kemabli melanda Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, dan berimbas ke Kabupaten Mamuju kota Propinsi Sulawesi Barat, pada Jum’at dini hari 15 januari 2021, yang sebelumnya berskala magnitudo 5,9.

Gempa ke-2 ini yang membuat ratusan rumah, dan sejumlah toko hotel, penginapan serta fasilitas lainnya porak-poranda, serta korban jiwa dan luka kritis.

Kepala BNPB Letjen Doni Monardo meninjau langsung lokasi yang terdampak gempa di Kecamatan Malunda dan Ulumanda. Dalam kunjungan tersebut, Doni menyerahkan bantuan operasional untuk kebutuhan pokok sebesar Rp 4 miliar.

Doni mengatakan, bantuan tersebut merupakan bantuan tahap awal yang diberikan kepada warga terdampak gempa.

“Bantuan awal untuk operasional kebutuhan pokok, sebesar Rp 4 miliar yang terdiri Rp 2 miliar untuk Provinsi Sulawesi Barat, masing-masing Rp 1 miliar untuk Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene,” kata Doni dalam siaran pers-nya, Sabtu sore (16/1).

Ditemani Gubernur Sulawesi Barat, Ali Baal Masdar, Doni meninjau lokasi Mamuju- Majene dengan menggunakan helikopter.

Dari bencana gempa ini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, gempa yang terjadi di Malunda tersebut dipicu oleh sesar naik Mamuju (Mamuju Thrust). Pemicu gempa ini sama dengan gempa 6,9 SR pada tahun 1969 lalu di Majene.

“Sebenarnya gempa saat ini terkait dengan pengulangan gempa yang terjadi di wilayah sama. Gempa memiliki mekanisme pergerakan naik, mirip dengan tahun 1969 di Majene juga,” kata Daryono saat konferensi pers virtual BMKG, Jumat (15/1).

Daryono mengatakan, pada 23 Februari 1969 lalu, gempa yang sama mengguncang Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Dampak dari gempa yang mengguncang 4 desa di Majene ini cukup dahsyat. Kekuatannya 6,9 SR. Daryono mengatakan, 64 orang meninggal dunia, 97 orang luka-luka, dan 1.287 rumah rusak.

“Sumber gempanya sama, saat itu 6,9 SR di Pantai Barat Sulawesi. Kedalamannya 13 meter sehingga memicu gempa besar dan timbul tsunami 4 meter di Pelatting dan 1.5 meter di Parasanga dan Palili. Dermaga, pelabuhan juga rusak semua,” ujarnya.

“Lalu gempa lagi 8 Januari 1984 di Mamuju tapi tidak ada catatan korban. Namun banyak rumah rusak, maksimum intensitas VII MMI,” imbuhnya.

Daryono menjelaskan, bahwa pulau Sulawesi juga sempat diguncang gempa berkekuatan 6,3 Skala Richter pada tanggal 11 April 1967 lalu. Gempaini mengguncang Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat dan menimbulkan tsunami hingga menyebabkan 13 orang meninggal dunia.

Kepala BNPB Letjen Doni Doni Monardo. (Foto BNPB)

Menurutnya, pemicu gempa di Majene kali ini adalah sesar naik Mamuju. Mekanisme sesar naik Mamuju ini juga mirip dengan gempa di Lombok tahun 2018 lalu yang terbilang dahsyat dengan magnitudo 7,0 SR.

“Diduga kuat pemicu gempa ini adalah mamuju thrust. Terbukti bahwa hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault). mekanisme sesar naik ini mirip dengan pembangkit gempa lombok tahun 2018, bidang sesar membentuk kemiringan bisang sesar ke darat,” ujarnya.

Dia menyatakan, berdasarkan hasil analisis estimasi peta tingkat guncangan, BMKG memprediksi kuat bahwa gempa menimbulkan kerusakan. Sejak hari Kamis siang kemarin hingga pagi ini, BMKG mencatat ada 28 kali gempa susulan.

“Muncul warna kuning dalam shake map artinya guncangan gempa mencapai skala intensitas VI MMI yang berpotensi merusak,” kata Daryono.

Dari 28 kali gempa susulan tersebut, gempa dengan kekuatan terbesar terjadi pada Kamis (14/1) pukul 13.35 WIB, yakni magnitudo (M) 5,9 dan pada Jumat (15/1) dini hari tadi pukul 01.28 WIB dengan kekuatan Magnitudo 6,2.

Daryono berharap, gempa 6,2 SR itu merupakan gempa utama. Namun dai tetap meminta masyarakat dan BPBD setempat untuk mewaspadai adanya gempa susulan.

Editor : SAN

*Berkomentarlah di kolom komentar dibawah dengan bijaksana yang menginspirasi dan bertanggung jawab.Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti yang diatur dalam UU ITE.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *