Dua SD di Majene Disegel Warga, Kadisidik : Saya Sudah Laporkan ke Polsek Banggae Tadi

- in BERITA, MAJENE, PENDIDIKAN, SULBAR
354
0

Dua SD di Majene Disegel Warga, Kadisidik : Saya Sudah Laporkan ke Polsek Banggae Tadi

Foto Kolase SANDEQPOSNews.com/Baharuddin

SANDEQPOSNews.com, Majene –  Kabupaten Majene salah satu kabupaten dari enam kabupaten di Propinsi Sulawesi Barat yang dijadikan sebagai kota pendidikan. Namun beberapa tahun terakhir ini sejumlah Sekolah Dasar disegel oleh warga yang mengklaim sebagai pemilik tanah, seperti yang dialami sebelumnya SD Negeri 18 Deteng-Deteng, Kelurahan Totoli, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene.

Peristiwa ini kembali dialami SD Negeri No. 20 Rangas dan SD Negeri No. 45 Inpres Rangas di Kelurahan Rangas, Kecamatan Banggae, Majene, Senin (29/6/2020) pagi.

Dua SD yang berdampingan itu masih dalam satu area tanah yang disegel oleh warga yang mengaku sebagai pemilik tanah.

Terkait peritiwa tersebut, dikonfirmasi Kepala Dinas pendidikan Kabupaten Majene, Ir. Iskandar, MM, mengaku sudah melaporkan ke kantor Polsek Banggae.

“Benar sudah saya turun lapangan kemudian laporkan ke polsek Banggae tadi. Urusan lebih lanjut ditangan pemkab  cq. Asisten 1 yang membidangi persoalan tanah dilokasi sekolah,” kata Iskandar melalui sambungan telepon, Senin (29/6).

Menurutnya, Ia sudah berkomunikasi dengan pihak Reskrim Polsek banggae untuk minta bantuan pembukaan segel tersebut.

“Saya tadi komunikasi langsung degan  Reskrim Polsek Banggae untuk minta bantuan pembukaan segel tersebut agar aktivitas sekolah dapat terlaksana, sambil menunggu mediasi oleh asisten 1 dengan pihak penggugat,” imbuhnya.

Lanjut Iskandar, pihak penggugat menunggu hasil rapat  mediasi  antara tim penyelesaian konflik tanah dengan penggugat, “Tapi sampai saat ini belum ada hasil ini undangan rapatnya.”

Sementara itu Kepala SD Negeri No. 54 Inpres Rangas, Idham, S.Pd, mengaku tidak tahu-menahu soal penyegelan terhadap sekolah dasar yang dipimpinnya itu.

“Saya juga kurang tahu ini pak, tiba-tiba disegel tadi,” kata Idham saat dikonfirmasi sore tadi.

Beberapa kali ditanya awak media SANDEQPOSNews.com, namuin Ia belum tahu terlalu jauh duduk persoalan penyegelan sekolah yang di-binanya itu.

Menurutnya pihaknya sudah melaporkan ke pihak Disdik Majene. Idham sendiri mengaku tidak masuk sekolah karena sedang mengerjakan (sesuatu) berkas data.

“Sudah koordinasi tadi ke Disdik, pihak Kadis akan terus tindak lanjuti dan memantau perkembangannya. Saya tidak ke sekolah tadi, karena kerja data pemasukan berkas,” katanya.

Sekolah Dasar yang disegel tampk samping kanan, Senin (29/6/2020). (SANDEQPOSNews.com/Baharuddin)

Baca juga

Hingga Senin petang tadi, SANDEQPOSNews.com berupaya mencari tahu pihak yang mengaku sebagai pemilik tanah, akhirnya menemukan salah satu keluarga dari ahli waris tanah yang diklaim sebagai miliknya, di bilangan Passarang Selatan, Kelurahan Totoli, Kecamatan Banggae.

J (diinisialkan) mengatakan, kasus penyegelan ini dilakuka pihak keluarganya karena dianggap belum dibayarkan ganti rugi oleh pihak Pemda Majene.

Ia menuturkan, salah satu perwakilan ahli waris bernama Aco sudah mengurus hingga terjadi rapat antara pihak ahli waris dengan pihak Pemda Majene dan Dinas pendidikan Majene.

“Anu masalahnya pak, itu yang sudah diurus (menyebut nama Aco), katanya sudah rapat sama bupati dan Diknas, katanya Diknas sudah terbayarkan (dibayarkan, red), katanya toh. Lalu dipertanyakan siapa yang dibayar dan mana kuitansinya toh. Tapi tidak bicara, tidak ada responnya,” tuturnya dengan aksen Mandar-Indonesia.

Menurut J, pihak Pemda Majene meminta pihaknya agar mengadu ke pengadilan untuk membuktikan hak kepemilikan tanah tersebut.

“Tapi disuruh (pihak Pemda Majene), nasuru’ki ke pengadilan mengurus. Katanya (pihak Pemda Majene) kalau benar-benar kita (ahli waris, red) yang punya mau ambil upahnya (ganti rugi, red) nanti kita bayar (pihak Pemda, red) kalau ada bukti kita punya (kepemilikan),” ujar J.

“Kita sudah punya bukti kuitansi pembelian. Nenek kita yang beli 30 ringgit, suratnya lengkap. Ada juga surat pinjamannya (ahli waris ke pihak Pemda). Ahli waris itu atas nama Waittang sama Pua Ana,” pungkasnya.

Kondisi dua gedung SD ini disegel dengan menggunakan sejumlah balok kayu, papan dan bangku kayu yang dipaku membentuk tanda silang.

Suasana ceria anak SD Negeri No. 54 Inpres Rangas, Kelurahan Rangas, Kecamatan Banggae, kabupaten Majene. Sekalipun sekolah ini dalam tahap rehabilitasi, tapi proses belajar mengajar tetap berjalan. Foto dokumen SANDEQPOSNews.com2 September 2019.

Sementara di depan pintu masuk SDN No. 54 Inpres Rangas terbentang spanduk plastik dengan tulisan (sesuai ejaan yang tertera pada spanduk) :

Tanah ini disegel oleh ahli waris pemilik tanah yang sah

Dengan berkekuatan hukum yang sah

  1. Kwitansi pembelian tahun 1930
  2. Surat pernyataan pinjaman pakai tahun 1991 (oeh POM SD. No. 54 dan 20 Rangas).

Pada bagian bawah spanduk ini tertera nama salah satu lembaga dan nama seseorang.

Reporter : Baharuddin

Editor : Daeng Nompo’

*Berkomentarlah di kolom komentar dibawah dengan bijaksana yang menginspirasi dan bertanggung jawab.Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti yang diatur dalam UU ITE.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *