PEREMPUAN REMBULAN

- in BERITA, HUMANIORA, KESUSASTRAAN
358
0

PEREMPUAN REMBULAN

Cerpen : Muh. Amir Jaya

“Astagfirullah.”
“Astagfirullah.”
“Astagfirullah.”

Aku terus beristigfar di dalam batin. Berusaha melupakan perempuan yang dua Minggu terakhir ini mengaduk-ngaduk batinku.

Awalnya, saat membuka WA group SMA, aku membaca nomor baru yang ternyata nomor itu adalah nomor pemilik perempuan yang pernah menjadi rembulan di hatiku.

“Selamat bergabung di group ibu Wati Indasari”. Demikian admin group menyambut sang rembulan itu.

Aku terpana. Pikiranku, memoriku melayang kembali ke masa lalu. Masa di waktu masih duduk di bangku SMA sampai masa-masa kuliah di perguruan tinggi.

Wati Indasari adalah cinta pertamaku. Tidak ada cinta lain yang tumbuh di hatiku kecuali dia. Perempuan itu benar-benar menggetarkan hatiku. Walaupun mataku sering melirik perempuan lain, tetapi tak satu pun yang singgah di hatiku.

Namun Wati begitu melekat dan sulit untuk jauh di kedalaman batinku. Setiap kami bersama, kasih sayang itu seperti melengket. Ya, kasih sayang tulus, yang tidak dibumbui dengan syahwat. Hati selalu bergetar dan berdebar saat berjalan bersama.

Ia memang perempuan lembut dengan kerudung yang menjadi ciri khasnya. Matanya jernih dengan tatapan yang selalu membuatku ingin lama-lama menatapnya.

Ia juga memiliki suara yang indah. Setiap ada kegiatan OSIS di sekolah, ia selalu menjadi langganang membaca ayat-ayat suci Al Qur’an. Sungguh suara dan lagunya sangat memikat hatiku.

Kami mulai berpisah saat tamat SMA. Kami memilih kuliah di sebuah perguruan tinggi yang berbeda. Aku kuliah di IKIP Ujung Pandang, sementara dia kuliah di IAIN Alauddin.

Pertemuan pun sangat sulit karena kesibukan masing-masing. Tetapi rasa cinta yang tulus tak pernah membuat jarak.

Kami benar-benar berpisah saat usai sarjana. Kedua orangtuaku memilihkan jodoh di kampung halaman, yang tidak bisa aku tolak.

Berulangkali aku menyampaikan bahwa aku memiliki perempuan idaman, namun kedua orangtuaku tak merestui.

Mereka tetap bersikukuh menjodohkan aku dengan sepupuku sendiri. Aku pasrah.

Saat aku ingin naik ke pelaminan, aku berusaha menghubungi Wati Indasari tetapi nihil. Aku tak menemukan jejaknya. Sebab, setelah meraih sarjana ia kembali ke kampung halamannya.

Kini setelah tiga puluh tahun tak bertemu, panggung teknologi mempertemukan kembali lewat group WA SMA.

Kulihat profilnya di WA, wajahnya tidak banyak berubah. Masih seperti dulu. Selain cantik, manis juga keibuan. Ia telah memiliki seorang putri dengan Pangerang yang gagah dan berwibawa.

Melihat postingan foto-fotonya bersama keluarganya, ia sangat merasa bahagia. Hampir semua foto-fotonya merangkul manja sang Pangerang.

Hatiku tiba-tiba cemburu. Ya, cemburu. Karena ternyata, hatiku masih berdebar saat melihat foto-fotonya. Memang aku telah memiliki bidadari dan buah hati, tetapi bidadriku itu tak mampu menggetarkan naluri lelakiku. Aku sama sekali tak bisa mencintainya.

Tubuhku dia miliki tapi jiwaku tak mampu dia miliki. Rupanya cinta yang tulus itu hanya tumbuh sekali dan tidak akan tumbuh pada yang lain. Begitulah gambaran yang kurasakan.

Aku berusaha mengontaknya secara pribadi lewat nomor WA-nya, namun ia tak pernah membalasnya. Aku tak tahu apa alasannya.

Aku pun memberanikan meneloponnya. Aku sungguh-sungguh ingin mendengar suaranya. Subhanallah, teleponnya diangkat. Aku memberi salam, dan ia pun menjawabnya.

“Maaf, dengan siapa?”tanyanya di balik telepon.

Aku tak bisa menjawabnya. Dadaku berdebar kencang mendengar suaranya yang lembut. Suaranya masih seperti dulu, pelan dan berwibawa. Aku sangat mengaguminya.

“Maaf, dengan siapa?”tanya lagi, dengan suara yang masih seperti dulu waktu masih di SMA.

Aku tak bisa menjawabnya. Aku masih gugup. Debar di hatiku semakin kencang.

“Halo, maaf dengan siapa?”

Sungguh aku tak bisa menjawabnya. Aku tak bisa berterus terang bahwa aku adalah Arya.

Karena aku tak menjawabnya, HP-nya pun ditutup. Tetapi aku yakin, ia akan penasaran siapa yang meneloponnya.
***
Malam ini, saat Bidadari dan buah hatiku tertidur pulas, aku dikocok rasa bersalah dan rasa rindu. Kedua rasa ini saling beradu di balik sukmaku.

Aku merasa bersalah karena sadar atau tidak sadar, aku telah mengganggu kebahagiaan Wati Indasari. Seharusnya aku tidak bisa menghubunginya apa pun alasannya, karena ia telah berkeluarga.

Menghubunginya berarti akan membuka halaman-halaman kisah cinta yang pernah terjalin indah. Padahal sudah terkubur puluhan tahun. Boleh jadi kisah-kisah indah itu terpupuk kembali walau sama-sama telah berkeluarga.

Berulangkali aku beristigfar, meminta ampun kepada Tuhan, agar tidak digelincirkan oleh masa lalu yang kini mengaduk-ngaduk batinku.

Sungguh perempuan lembut itu benar-benar telah menggelisahkanku. Namanya terus bergema di kedalaman batinku.

Wajahnya yang keibuan terus menggantung di bola mataku. Suaranya terus terngiang di daun telingaku Ah! Aku benar-benar merindukannya.

Ingin selalu mendengar suaranya, ingin berjumpa dengannya walaupun mungkin hanya sedetik.

“Astagfirullah.”
“Astagfirullah.”
“Astagfirullah.”

Aku terus beristigfar. Memohon ampunan-Nya. Aku banar-benar terbawa dengan perasaan.

Tetapi semakin aku beristigfar, semakin kuat nama Wati Indasari bergema di balik dadaku.

Aku pun memutuskan untuk meneleponnya. Tak peduli apakah malam ini adalah malam Jumat, yang mungkin sedang menikmati kebahagiaannya dengan sang Pangerang.

Tujuanku memang hanya ingin mendengar suaranya yang lembut itu. Aku sangat merindukannya. Persyetan semua. Begitu pikirku.

Kutelepon dia. “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Rekam pesan anda,”terdengar suara di balik telepon.
Kuulang lagi. Masih tetap bersenandung di balik telepon ,”Nomor telepon yang anda tuju sedang tidak aktif.”

Sekali lagi, kupencet nomor telepon yang sama, namun lagi-lagi tetap suara yang sama, “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.”
***
Pagi ini aku membaca ulang novel “Samiri” di teras. Novel yang aku tulis tahun 2016 ini adalah novel yang berkisah tentang cinta yang tulus antara Samiri dan Nurlina.

Namun cinta mereka kandas setelah orang tua Nurlina menjodohkannya dengan lelaki pilihan orangtuanya.

Belum selesai novel romantis itu kubaca, tiba-tiba HP-ku berdering. Rupanya yang menelepon adalah Wati Indasari.

Namanya tertulis terang di layar HP-ku.
Dengan dada berdebar kuangkat HP-ku. “Assalamu’alaikum,” kataku.

“Waalaikumussalam. Ini dengan siapa, ya. Kemarin menelepon saya,”k Wati Indasari di balik telepon, dengan suara yang sangat lembut.

“Iya, saya.”

“Mohon maaf, maksudnya dengan siapa?”

“Apakah sudah lupa dengan suara saya?”

“Iya, mohon maaf, saya sudah lupa.”
“Saya, Arya.”

“Maksudnya Arya itu Amir Jaya?”
“Iya.”

Setelah mendengar dan yakin bahwa aku adalah Arya, suara perempuan itu tiba-tiba berubah. Ada isak tangis yang tertahan di balik telepon.”
“Halo, Wati.”

Aku berusaha menjaga dan menahan perasaanku agar tidak tumpah di balik telepon.

Beberapa detik belum juga ada balasan. Barangkali Wati kaget yang luar biasa setelah dia tahu bahwa yang menelopon itu adalah aku.

Tiga puluh tahun tak berjumpa, dan tak ada kabar, lalu tiba-tiba bertemu walau hanya lewat telepon, itu sungguh mengharukan.

Aku yakin, dia masih sangat mencintaiku sebagaimana aku sangat mencintainya.
“Halo, Wati.”

“Iya, kenapa kita bertemu lewat telepon. Kamu sudah punya istri kan?”

“Iya, saya sudah punya istri.”

Lagi-lagi isak tangis terdengar di balik telepon.

Sungguh, batinku ini tercabik-cabik. Perempuan itu masih seperti dulu, perasa dan sangat sensitif.

Jika ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, maka jawabannya adalah derai air mata. Barangkali memang senjata perempuan adalah air mata. Entah.
“Bagaimana suamimu?”

“Suamiku orang baik. Dia sangat menyayangiku.”

“Pasti kamu sangat bahagia.”
“Iya, aku bahagia.”

“Tapi saya mohon, kita bisa ketemu. Biar beberapa menit saja.”

“Untuk apa?”

“Ya, untuk ketemu saja.”

“Jangan. Cukup telepon saja.”

“Memangnya kenapa tidak mau ketemu. Sekarang saya ada di Makassar.”

“Maaf, saya jaga kepercayaan suami saya.”

“Berarti kamu benar-benar lupa dengan saya. Saya cuma minta dua menit saja untuk ketemu. Saya kan pernah janji, setamat kuliah saya akan mengawinimu.”

“Sudahlah. Itu masa lalu. Tak mungkin waktu akan surut kembali. Kamu sudah punya istri kan? Dan saya juga punya suami.”

“Tapi kamu tahu kan, saya sangat mencintaimu.”

“Iya, saya tahu. Saya juga mencintaimu. Tapi mencintai bukan berarti harus memiliki.”

“Jadi, kamu benar-benar tidak mau bertemu?”

“Iya, demi suamiku dan demi istrimu jangan kita ketemu. Inilah jalan yang terbaik. Maafkan saya, Arya.”

Telepon ditutup bersamaan isak tangis yang tertahan di balik telepon.

Perempuan rembulan itu telah memberi pelajaran bahwa cinta yang tulus tidak harus menjadi korban dari kesetiaan.

Maccini, 29 Mei 2020.

*) Amir Jaya : Seorang pegiat sastra, literasi, penulis, dan wartawan Mitra Media, tinggal di Maccini, Makassar.

*Berkomentarlah di kolom komentar dibawah dengan bijaksana yang menginspirasi dan bertanggung jawab.Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti yang diatur dalam UU ITE.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *